Jumat, 17 Mei 2013

Fotografi dalam Elemen Seni

halo, selamat malam. Jogja lagi diguyur hujan lho. kamu apa kabar guys? malem ini aku mau kasih elemen seni dalam fotografi. YUKS CUS :)


Jenis dari Element Seni Dalam Fotografi itu sebenarnya banyak, hanya saja saya akan menjelaskan beberapa diantaranya. Berikut ini adalah elemen dalam Seni Fotografi :

1. Rule of Third
Pada aturan umum fotografi, bidang foto sebenarnya dibagi menjadi 9 bagian yang sama. Sepertiga bagian adalah teknik dimana kita menempatkan objek pada sepertiga bagian bidang foto. Hal ini sangat berbeda dengan yang Umum dilakukan dimana kita selalu menempatkan objek di tengah-tengah bidang foto.

2. Shape
Komposisi foto yang berisi shape adalah dengan adanya objek yang akan membentuk suatu bentuk abstrak yang diakibatkan karena pembandingan dua keadaan cahaya yang berbeda.
Sebuah shape tentu saja tidak berdiri sendiri. Ketika masuk kedalam sebuah pemandangan yang berisi dua atau lebih shape yang sama, kita juga dapat meng-crop salah satu shape untuk memperkuat kualitas gambar. Kita bisa ambil contoh foto yang mengandung unsur shape adalah foto shilouet, foto tersebut membandingkan objek yang dalam keadaan terang dan gelap dimana objek yang gelap atau tidak terkena cahaya atau objek di depan cahaya itu akan membentuk shape .

3. Tekstur
Sebuah foto dengan gambar teksur yang menonjol dapat merupakan sebuah bentuk kreatif dari shape atau pola. Jika memadai, tekstur akan memberikan realisme pada foto, membawa kedalaman dan kesan tiga dimensi ke subyek anda.

4. Perfektif
Foto dengan unsure persfektif mempunyai objek yang berjarak atau seakan-akan berjarak, unsure ini biasanya dipadukan dengan unsure garis, karena biasanya foto dengan unsure perfektif dapat berupa garis.

5. Garis
Fotografer kerap menggunakan garis pada karya-karya mereka untuk membawa perhatian pengamat pada subjek utama. Garis juga dapat menimbulkan kesan kedalaman dan memperlihatkan gerak pada gambar. Ketika garis-garis itu sendiri digunakan sebagai subjek, yang terjadi adalah gambar-gambar menjadi menarik perhatian. Tidak penting apakah garis itu lurus, melingkar atau melengkung, membawa mata keluar dari gambar.

6. Framing
Bila subyek secara khusus mempunyai bentuk yang kuat, penuh frame dengan subyek. Baik itu dengan cara menggunakan lensa dengan fokus lebih panjang atau bergerak mendekati subyek. Frame biasanya dibentuk oleh fotografer sebagai batas penglihatan objek dan biasanya frame yang digunakan di dalam foto itu sendiri memakai objek lain

7. Reflection
Unsur dalam foto ini merefleksikan objek nyata ke objek yang ada di sekitarnya, biasanya objek yang di jadikan sebagai objek refleksinya, yaitu, air dan lantai yang berwarna putih dan yang bisa memantulkan kembali dan menggambarkan objek aslinya,


Minggu, 12 Mei 2013

dari cermin menjadi sebuah fotografi seni berbentuk lukisan

Nggak bakal kepikiran deh dengan hasilk karya fotografer berikut ini. Entah dia menemukan ide secemerlang ini berasal dari mana, yang jelas hasil karyanya itu WOW banget.

Dia bernama Daniel Kukla menghabiskan waktu selama sebulan di Taman Nasional Joshua Tree di California Selatan untuk menciptakan karya fotografi pemandangan alam yang menakjubkan melalui media cermin.
Dalam ilmu ekologi, ruang perbatasan yang diciptakan oleh pertemuan ekosistem yang berbeda disebut sebagai efek tepi. Untuk mendokumentasikan pertemuan ini , Kukla membawa cermin besar dan tripod kanvas ke padang gurun dan menangkap elemen-elemen indah. Menggunakan kamera tunggal, rangkaian gambar menyatukan fenomena sinkronisasi antara kontras warna dan tekstur, serta interaksi alami dari lingkungan itu sendiri.

Berikut hasil karyanya :


























*sumber : http://blog.melukissendiri.com/artikel/seni-fotografi-cermin-yang-menyerupai-lukisan/

Foto NUDE, pornografi atau seni fotografi ?

Selamat malam bloggist, malam ini dari pada aku bingung mau ngapain, sedikit pengetahuan nih dari aku buat kamu semuanya. Tau dong yang namanya foto NUDE. Nude berasal dari negara - ngeara barat. Sebelum adanya fotografi, nude sudah dibalut dalam sajian gambar, lukisan atau pahatan kayu dan patung. Bahkan dengan adanya karya - karya tersebut sehingga terbentuk kaum - kaum nudisme di berbagai negara, salah satunya Perancis.

Nude mulai masuk Indonesia sekitar tahun 1980. Nude adalah telanjang. Khususnya para pelakon seni di fotografi (fotografer dan model) melakukan pemotretan tersebut didasari rasa seni, yakni memperlihatkan estetika anatomi tubuh. Disajikan dengan berbagai olahan, baik secara digital atau berdasarkan teknis-teknis pengambilan gambarnya. Foto nude dikalangan fotografi sendiri sebagian besar tidak menjual sensualitas.

Tetapi terkadang penilaian orang Indonesia tentang fotografi NUDE adalah PORNOGRAFI. Jenis foto Nude ada dua, yakni :  
  •  Fine Art Nude 
Fine Art Nude adalah fotografi telanjang yang memiliki nilai estetika dari bentuk tubuh manusia. Dengan eksekusi foto dari berbagai angle (sudut pandang pengambilan), kombinasi atau pengaturan pencahayaan, serta proses editing, foto yang dihasilkan akan semakin “menarik” 

  • Body Part
Body Part adalah foto yang menampilkan bagian-bagian tubuh tertentu. Bagian tubuh yang memiliki keindahan tersendiri atau bagian tubuh si model yang paling menonjol dan menarik.
 
Fine Art Nude dan Body Part 
 
“Fine Art Nude sudah pasti Body Part, tetapi Body Part belum tentu Fine Art Nude”. Karena Fine Art Nude menampilkan seluruh tubuh si model dan dalam proses eksekusinya jarang ada model yang tetap memakai pakaian. Sedangkan Body Part, menampilkan bagian-bagian tubuh tertentu, seperti lipatan kaki, lekukan punggung, lekukan bentuk pinggang atau panggul, ruas-ruas jari, dan lain-lain. Bahkan dalam eksekusinya Body Part tidak selalu telanjang, karena yang dipotret hanya bagian-bagian tertentu, model sering mengenakan pakaian terbuka (pakaian dalam). 
 
nah ini nih perbedaan antara foto NUDE dan foto PORNO
 
  1. Foto Nude mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :
    • Foto Telanjang (nude) seringkali tidak menunjukkan wajah sama sekali (walau terkadang ada juga yang menunjukkan wajahnya). 
    • Umumnya Fotografi telanjang tidak berupa foto snapshot / candid.
    • Terkadang menggunakan pengaturan cahaya dan bayangan untuk mendapatkan tekstur dan struktur tubuh yang diinginkan (untuk tingkat yang lebih ekstrim). 
    • Foto nude, pada proses mengutamakan konsep berisi makna atau pesan tertentu, bahkan bisa dijadikan sebagai simbolis. Bukan sekedar menjual sensualitas dan erotic. 
    • Foto nude tidak bertujuan untuk memancing rangsangan biologis seseorang, namun semua penilaian kembali pada masing-masing penikmat foto tersebut.
  2. Foto Porno :
    • Foto Porno umumnya mengekspose seluruh tubuh, serta menunjukan wajah objek foto.
    • Foto porno cenderung diambil secara terang-terangan dengan pengaturan cahaya yang flat.
    • Foto porno umumnya cenderung menggunakan model yang mempunyai tubuh “proporsional”. 
    • Foto porno sering mengekspos bagian organ vital. 
    • Foto porno bertujuan menjual sensualitas, bahkan bukan tidak mungkin foto porno bertujuan untuk merangsang seksualitas seseorang.
 
*sumber : http://dininaoviani.blogspot.com/2013/01/fine-art-nude-body-part-pornografi-atau.html


Sabtu, 11 Mei 2013

Black and White Photography

hallo, bloggist :)
tau fotografi hitam putih kan?
Foto hitam putih adalah salah satu jenis foto yang tak lekang oleh waktu. Selain dramatis, foto hitam-putih sering kali mampu memunculkan karakter dan kesan yang lebih mendalam pada obyek. Oleh karenanya mudah dimaklumi, meski kamera masa kini mampu menghasilkan foto dengan warna yang lebih kaya, foto hitam-putih masih bertahan dan diminati banyak orang.

berikut adalah tips memotret foto hitam putih yang mungkin berguna buat kamu nih :
  1. Potretlah dalam mode warna – Kamera digital menghasilkan rentang tone yang lebih lebar dalam mode warna karena dalam mode ini sensor mengambil data dari 3 channel – Red, Green dan Blue atau RGB. Untuk itulah, foto hitam yang dihasilkan dari pengolahan foto warna menggunakan photo editor di komputer akan cenderung lebih baik kualitasya.
  2. Setting ISO serendah mungkin – Noise (bintik-bintik kecil putih yang muncul di foto anda) akan tampak lebih menonjol dalam foto hitam putih dibanding dalam foto warna. Gunakan ISO serendah mungkin supaya pada saat foto di proses nantinya, noise bisa diminimalkan.
  3. Mendung adalah saat terbaik – Adanya mendung akan membuat kontras lebih rendah, dan ini adalah saat terbaik untuk membuat foto hitam – putih. Anda tidak akan terlalu perduli warna langit yang abu – abu, toh dalam foto hitam putih tidak akan terlalu terlihat.
  4. Eksploitasi tekstur, pola dan garis – Dalam foto hitam putih, tekstur – pola dan garis akan lebih terlihat menonjol dan semakin menarik. Untuk itu eksploitasi-lah jika anda menemukan adanya komponen tersebut.
  5. Sidelighting adalah cahaya terbaik – Ketika memotret di luar ruangan untuk foto hitam putih anda, tonjolkan bentuk secara maksimal dengan mengandalkan pencahayaan samping (sidelighting), sehingga jatuh bayangan jadi sangat menarik. Sidelighting terjadi saat anda memotret di pagi atau sore hari. 

Minggu, 05 Mei 2013

Estetika dalam Foto Seni

Estetika dalam Foto Seni

Estetika di dalam foto seni didapatkan apabila telah ditemukan titik estetika yaitu momentum pengalaman kesadaran roh manusia seniman maupun pengapresiasi seni yang persis berada di tengah-tengah antara yang rohani dan yang jasmani, di mana titik ini di alami sekejap namun bernuansa mendalam di dalam yang “tragis” (manakala:roh”dikalahkan”jasmani”), yang sublim (manakala roh menang atas kebaikan), dan yang asri (gracious:manakala kebaikan menang atas kebenaran) (lihat Mudji Sutrisno dan Chris Verhaak, Estetika Filsafat Keindahan, Kanisius,1993).

Dalam estetika di kenal dua pendekatan: yang pertama ingin langsung meneliti keindahan itu dalam benda-benda / alam indah serta seni itu sendiri atau mau lebih; yang kedua menyoroti situasi kontemplasi rasa indah yang sedang dialami (pengalaman keindahan dalam diri orangnya). Pengalaman estetika berkait erat dengan soal perasaan, dimana bila foto seni dikatakan memiliki estetika dengan ciri foto tersebut tidak hanya mampu  mengeploitasi keindahan tersebut melainkan foto seni menyumbangkan nilai-nilai humanisme universal kepada umat manusia. Fotografi tidak hanya sebagai ekses kemudahan alat rekam, namun di sana tercermin sebuah proses pencitraan gagasan dan estetika yang lebih transenden.

*sumber : http://fotografi.isi-dps.ac.id/berita/%E2%80%9Cfoto-seni%E2%80%9D-konsep-estetika-dalam-fotografi

Fotografer Seni dan Kategori Foto Seni

Fotografer Seni

Kassian Cephas orang jawa, lahir di Yogyakarta tanggal 15 Januari 1845, oleh banyak pihak diakui sebagai fotografer pertama Indonesia. Fotografer lainnya yang ada di Indonesia sebagian besar adalah keturunan Belanda.

Kassian Chepas yang tinggal dan mempunyai studio di Yogyakarta juga merupakan “pemotret resmi” Kraton Yogyakarta. Selain memotret kalangan elit, Kassian Chepas juga banyak memotret candi dan bangunan bersejarah lainnya terutama yang ada disekitar Yogya.

Selain karya Chepas, foto-foto kuno yang dibuat pada akhir dan awal tahun 1900-an sayangnya banyak yang tidak diketahui siapa pemotretnya, banyak juga yang menampilkan sisi keindahan dengan objek panorama maupun human interest.

Selain itu Ansel Adam seorang “fine art photographer” Amerika terbesar dari abad ke-20. Ansel Adam tidak hanya dihargai dari karya foto-fotonya saja tapi juga dari dedikasinya dalam dunia pendidikan fotografi. Ansel bersama Fred Archer pada awal tahun 1940-an memperkenalkan suatu metode yang dikenal dengan nama Zone System (ZS).

Metode temuan Ansel ini secara umum adalah proses terencana dalam pembuatan foto mulai dari pra-visualisasi kemudian mengkalkulasi pencahayaan secara tepat sampai menproses film secara akurat. Hasil akhirnya adalah negatif foto yang prima sebagai pondasi utama membuat cetakan foto yang berkualitas juga maksimal. Metode ZS ini bila dipahami secara benar akan sangat membantu fotografer untuk menghasilkan foto yang semaksimal mungkin sehingga tidak lagi mengharapkan suatu keberuntungan semata dalam menentukan perhitungan pencahayaan. Segalanya telah diprediksi dan direncanakan dengan baik.

Kategori Foto Seni (fine art) 

Foto seni (fine art) adalah foto-foto piktorialisme, yakni jenis foto yang menonjolkan estetika yang meniru pencitraan gambar (picture) atau lukisan (painting). Jenis foto ini lebih menyerukan keindahan atau nilai artistik instriknya ketimbang kandungan makna foto itu sendiri. Elemen -elemen yang diekploitasi oleh fotografer foto seni ialah komposisi, penyinaran yang dramastis (chiroscuro) dan nada warna(Paul I. Zacharia)

Foto seni (fine art) bisa disimpulkan sebagai foto yang dalam proses yang berkesinambungan. Ada hal yang yang tidak bisa dipisahkan mulai dari konsep perencanaan, pembuatan, penerapan teknis secara akurat termasuk didalamnya pemrosesan film ataupun pembuatan file digital. Menyikapi kontroversi tentang digital, menarik mengutip pendapat seorang jurnalis kawakan bahwa hanya foto jurnalis yang tidak boleh dimanipulasi. Foto-foto jurnalistik harus menyampaikan suatu kebenaran apa adanya sedangkan dalam foto (fine art), proses digital hanya merupakan alat pembantu dalam berkarya.

Dalam mencipta suatu karya seni, konsep utama yang harus kita persiapkan adalah idealisme pribadi. Pengembangan konsep tersebut, lalu penyesuaian dengan sarana yang ada, pengaruh lingkungannya, kesulitan yang mungkin terjadi, dan tentu saja harus didukung dengan peralatan yang memadai sebagi faktor teknis penciptaan.

Sebagai ilustrasi untuk hal ini adalah foto-foto karya Do Qong Hai yang mirip dengan lukisan bergaya China. Karya-karya ini dibuat dengan melakukan sandwich dari beberapa negative yang dalam pembuatannya telah direncanakan dengan matang.

*sumber : http://fotografi.isi-dps.ac.id/berita/%E2%80%9Cfoto-seni%E2%80%9D-konsep-estetika-dalam-fotografi

Foto "SENI" Indonesia

Guys, tau nggak? perkembangan foto seni di Indonesia sendiri telah berkembang diakhir abad delapan belas lho, ada orang Indonesia yang telah membuat foto-foto indah menawan baik di dalam studio maupun di alam bebas, foto-foto itu jelas sekali bernafaskan seni seperti yang kita kenal sekarang ini. Objek, lighting dan komposisinya jelas sekali diperhitungkan dengan matang saat pemotretan. Pencetakan fotonyapun juga sangat brelian, sehingga hasil fotopun menjadi indah menawan bagaikan lukisan-foto piktorial. 

Banyak yang tidak menyangka bahwa perkembangan foto seni di Indonesia sangat pesat termasuk Bali di era digital ini tumbuh dan mewarnai pefotografian di Indonesia. Dari segi ekonomi sekarang ini sebuah foto bisa dihargai puluhan juta rupiah selembarnya. Namun bukan sekedar dari segi ekonomi saja, dari segi seni rupa lainnya perkembangan foto seni semakin dapat mensejajarkan diri dengan seni lainnya. Mereka yang tidak percaya tentang hal ini menganggap bahwa sebuah cetakan foto seni hanyalah sebuah replika dari negatif pembentuknya. Foto mudah dibuat berapa lembarpun asalkan negatif fotonya masih ada sehingga tidak bisa disamakan dengan karya seni lain.

Hal ini lebih membangkitkan fotografer menekuni bidang foto seni ini, karena sekarang tumbuh sekelompok orang yang mengoleksi foto dan menganggapnya sama dengan benda seni lain. Walaupun dapat dikatakan perkembangan foto seni di Indonesia masih belum maksimal, karena belum banyak yang menekuni foto seni itu sendiri. Foto seni tidak selalu apa yang menjadi obyek, melainkan lebih pada proses ketika memotret dan memroses hasil cetakannya. Ketika kita memotret kita harus sudah tahu akan seperti apa hasilnya hingga sedetail mungkin. Perkembangan foto seni yang begitu pesat dapat kita nikmati setelah bergulirnya era reformasi 1998 dan memasuki era fotografi digital yang sangat pesat dan juga menjadi tonggak perkembangan bidang lain.

Foto Seni

Pengertian “foto seni” adalah suatu karya foto yang memiliki nilai seni, suatu nilai estetik, baik yang bersifat universal maupun lokal atau terbatas. Karya-karya foto dalam kategori ini mempunyai suatu sifat yang secara minimal memiliki daya simpan dalam waktu yang relatif lama dan tetap dihargai nilai seninya.

Sebuah karya atau foto kita katakan sebagai benda seni, ia harus bukan sekedar hasil upaya proses reproduksi belaka. Foto seni semestinya berasal dari suatu kontemplasi yang intens. Pemunculan gagasan/idea tidaklah serentak dan berkesan dadakan. Ada suatu proses pengamatan empirik, komparasi, perenungan, dan bahkan serangkaian mimpi-mimpi yang panjang yang lalu berwujud sebagai titik akhir sebuah eksekusi: konsep dan visi/misi yang transparan serta “baru”. Dengan begitu sebuah foto seni tidak hanya sebentuk “seni instan” belaka.

Foto Seni, merupakan bagian dari cabang seni rupa yang paling muda. Walau tidak bisa dipungkiri, secara teknikal foto seni memberikan kontribusi kepada cabang fotografi lainnya, semisal foto jurnalistik.
Berbagai kalangan fotografi mengakui, perkembangan dunia fotografi di Indonesia memang belum sepenuhnya menggembirakan, walaupun sejak “reformasi” foto baik dari foto jurnalistik, foto studio, komersial ataupun yang bernuansa salonis, foto seni, dunia fotografi Indonesia memang tengah memasuki era baru.

*sumber : http://fotografi.isi-dps.ac.id/berita/%E2%80%9Cfoto-seni%E2%80%9D-konsep-estetika-dalam-fotografi