Tampilkan postingan dengan label Fotografer. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fotografer. Tampilkan semua postingan

Jumat, 17 Mei 2013

Dosenku Fotografer

Kali ini aku nggak asing dengan nama beliau. Sebut saja namanya Risman Marah. Nama asli beliau yaitu Surisman Marah (lahir di Bukittinggi, Sumatera Barat, 3 Juni 1951; umur 61 tahun) adalah seorang seniman fotografi Indonesia. Surisman dikenal sebagai perintis atau pencetus tehnik fotografi buta di Indonesia. Kejenuhannya pada tehnik-tehnik konvensional telah mendorongnya bereksperimen dengan tehnik tersebut. Dalam eksperimen itu, Surisman melibatkan para tunanetra untuk memotret objek yang biasa dilakukan oleh orang berpenglihatan normal.

Dia memulai karier fotografinya pada tahun 1972. Kegigihannya dalam bereksperiman telah mengantarkannya menjadi orang pertama di Indonesia yang menggunakan tehnik fotografi buta. Sedangkan di-dunia internasional, menurut catatan Kompas, juga ada seorang fotografer melakukan hal yang sama. Anja Ligtenberg, seorang fotografer profesional yang pernah bermukim di New York, Amerika Serikat, tercatat memakai tehnik fotografi buta juga seperti yang dilakukan Surisman. Dengan proyek bernama "Seeing The Unseen", Anja Ligtenberg akhirnya menginspirasi "Skyway Foundation" melakukannya juga pada tahun 2004-2006.

Surisman terlahir sebagai anak ketiga dari empat bersaudara. Dua kakaknya adalah Haida Nizar dan Azwar Marah, sedangkan adiknya bernama Dotty Suryati. Surisman Marah menikah dengan Diyah Widiyanti.
Kepiawaian Surisman dalam seni fotografi tak terlepas dari pengaruh tradisi keluarganya di kampung halaman. Pada zaman Belanda, kakeknya, Saleh Angku Pakamo dikenal sebagai praktisi fotografi dan mempunyai studio foto keliling. Pekerjaan kakeknya itu juga dibantu oleh anaknya Dasima dan Nawazir.

Pendidikan

  • Sekolah Tinggi Seni Rupa Indonesia ASRI, Yogyakarta
  • Jurusan Seni Lukis (Sarjana Muda) (1974)
  • Sarjana Penuh (1980)

Karier

  • Asisten dosen di Jurusan Seni Lukis STSRI ASRI Yogyakarta (1975)
  • Dosen Fotografi di Jurusan Fotografi Fakultas Seni Media Rekam (1994)
  • Pengajar Program Pascasarjana Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Bibliografi

  • Profil Kementerian RISTEK, Menristek, Jakarta (2004)
  • Untukmu Kami Hadir, Ditjen Banjamsos, Departemen Sosial, Jakarta (2006)
  • Soedjai di Tengah Belantara Fotografi Indonesia, BP ISI dan LPP Yogyakarta (2007)
  • Bantul Bangkit, Pemda Kabupaten Bantul, Yogyakarta (2008)
  • We Are Here for You, Ditjen Banjamsos, Departemen Sosial, Jakarta (2009)
  • Meraih Masa Depan Melalui PKH, Direktorat Jaminan Kesejahteraan Sosial, Kemensos RI, Jakarta (2010)
  • Berdaya dan Mandiri untuk Sejahtera, Direktorat Pemberdayaan Sosial dan Penanggulangan Kemiskinan, Kemensos RI, Jakarta (2010)
 mau tau hasil karya beliau ? yuk cek disini yaaaaaaaa :)

Minggu, 05 Mei 2013

Fotografer Seni dan Kategori Foto Seni

Fotografer Seni

Kassian Cephas orang jawa, lahir di Yogyakarta tanggal 15 Januari 1845, oleh banyak pihak diakui sebagai fotografer pertama Indonesia. Fotografer lainnya yang ada di Indonesia sebagian besar adalah keturunan Belanda.

Kassian Chepas yang tinggal dan mempunyai studio di Yogyakarta juga merupakan “pemotret resmi” Kraton Yogyakarta. Selain memotret kalangan elit, Kassian Chepas juga banyak memotret candi dan bangunan bersejarah lainnya terutama yang ada disekitar Yogya.

Selain karya Chepas, foto-foto kuno yang dibuat pada akhir dan awal tahun 1900-an sayangnya banyak yang tidak diketahui siapa pemotretnya, banyak juga yang menampilkan sisi keindahan dengan objek panorama maupun human interest.

Selain itu Ansel Adam seorang “fine art photographer” Amerika terbesar dari abad ke-20. Ansel Adam tidak hanya dihargai dari karya foto-fotonya saja tapi juga dari dedikasinya dalam dunia pendidikan fotografi. Ansel bersama Fred Archer pada awal tahun 1940-an memperkenalkan suatu metode yang dikenal dengan nama Zone System (ZS).

Metode temuan Ansel ini secara umum adalah proses terencana dalam pembuatan foto mulai dari pra-visualisasi kemudian mengkalkulasi pencahayaan secara tepat sampai menproses film secara akurat. Hasil akhirnya adalah negatif foto yang prima sebagai pondasi utama membuat cetakan foto yang berkualitas juga maksimal. Metode ZS ini bila dipahami secara benar akan sangat membantu fotografer untuk menghasilkan foto yang semaksimal mungkin sehingga tidak lagi mengharapkan suatu keberuntungan semata dalam menentukan perhitungan pencahayaan. Segalanya telah diprediksi dan direncanakan dengan baik.

Kategori Foto Seni (fine art) 

Foto seni (fine art) adalah foto-foto piktorialisme, yakni jenis foto yang menonjolkan estetika yang meniru pencitraan gambar (picture) atau lukisan (painting). Jenis foto ini lebih menyerukan keindahan atau nilai artistik instriknya ketimbang kandungan makna foto itu sendiri. Elemen -elemen yang diekploitasi oleh fotografer foto seni ialah komposisi, penyinaran yang dramastis (chiroscuro) dan nada warna(Paul I. Zacharia)

Foto seni (fine art) bisa disimpulkan sebagai foto yang dalam proses yang berkesinambungan. Ada hal yang yang tidak bisa dipisahkan mulai dari konsep perencanaan, pembuatan, penerapan teknis secara akurat termasuk didalamnya pemrosesan film ataupun pembuatan file digital. Menyikapi kontroversi tentang digital, menarik mengutip pendapat seorang jurnalis kawakan bahwa hanya foto jurnalis yang tidak boleh dimanipulasi. Foto-foto jurnalistik harus menyampaikan suatu kebenaran apa adanya sedangkan dalam foto (fine art), proses digital hanya merupakan alat pembantu dalam berkarya.

Dalam mencipta suatu karya seni, konsep utama yang harus kita persiapkan adalah idealisme pribadi. Pengembangan konsep tersebut, lalu penyesuaian dengan sarana yang ada, pengaruh lingkungannya, kesulitan yang mungkin terjadi, dan tentu saja harus didukung dengan peralatan yang memadai sebagi faktor teknis penciptaan.

Sebagai ilustrasi untuk hal ini adalah foto-foto karya Do Qong Hai yang mirip dengan lukisan bergaya China. Karya-karya ini dibuat dengan melakukan sandwich dari beberapa negative yang dalam pembuatannya telah direncanakan dengan matang.

*sumber : http://fotografi.isi-dps.ac.id/berita/%E2%80%9Cfoto-seni%E2%80%9D-konsep-estetika-dalam-fotografi

Rabu, 24 April 2013

Interview with Hengki Koentjoro


hey ho, ada cuplikan interview bareng om Hengki Koentjoro
mau tau? simak ya :)


Hengki Koentjoro#1 Please introduce yourself
My name is Hengki Koentjoro, a fine art photographer base in Jakarta, Indonesia. I graduated from Brooks Institute of Photography in 1991 majoring in Film/video production and minor in Black and White photography. At the moment I’m working as a video cameraman for a production house in Jakarta and we do mostly corporate profile and TV commercials. For now photography is mainly a serious hobby during spare time.






#2 How did you get interested in photography?

Hengki KoentjoroMy parents gave me a Kodak pocket camera for a birthday present. The loves of capturing moments in the family as well as the ability to freeze moments were the starting point of my love affair with photography. Letter on the work of Ansel Adam really set my eyes on Black and White photography. His ability to control the tonality to create moods and atmosphere captivated me and the passion starts from there and never look back.



#3 Do you have an artistic/photographic background?
Not at all, photography has always been the tool of expression.

#4 Which artist/photographer inspired your art?
Ansel Adam and Michael Kenna.

Hengki Koentjoro#5 How much preparation do you put into taking a photograph? Are you planning every step or is it always spontaneous?

Almost everything is spontaneous because I love to get lost in a place and explore the beauty of the nature that is full mystery and the unexpected; it’s always fresh. I never go for high expectation, just take whatever nature has to over and most of the time she hardly disappoint.










#6 What fascinates you in places that you shoot?

Hengki KoentjoroThe love of the ocean is the main drive to express one self. The calm and the vast area is the inspiration and at the same time a place to replenish your mind. I’m lucky to live in Indonesia because she is dubbed as the biggest archipelago nation on earth with more than 13,000 islands. We also have many highlands and active volcanoes spreading over 3275 miles from East to West. This abode of the god is also known for it’s mysterious mist and fog that accentuate the thick feeling of mysticism.







Hengki Koentjoro#7 We can see your photographs mainly in black and white, why have you chosen to present them in this form?

The ability to play around with tones and create an atmospheric photograph is the reason to choose monochrome. It is more pliable therefore more freedom in expressing your idea. With the Zone System by Ansel Adam, you are in practice of seeing thing around you in monochrome or learning to see in black and white. This will help a lot in choosing your proper subject matter and forecasting how it’ll look letter on postproduction.


#8 Could you please tell us something about your technique and creating process?
Now I mainly shoot with DSLR camera. For the ocean I normally use the long exposure technique with double ND filters of 18 stops to allow shooting on the broad daylight for more than 5 minutes. Post processing is done digitally to convert to black and white. And the software of choice is Adobe Lightroom. For printing, Hahnemuhle Rag Baryta paper is the favorite specially when paired with HP printer.

#9 Could you tell our readers how to reach such excellent results in photography?

Hengki KoentjoroEnjoy life. Be thankful that you got passion to express your self. Relax and don’t push to hard. Just don’t stop, sooner or letter it will come to you and be ready to embrace it.


#10 What do you do in your life besides photography?

To do nothing at all and stay home with family.

#11 What future plans do you have? What projects would you like to accomplish?

Keep on shooting and hopefully finding your trademark along the way.



Hengki Koentjoro Official Website:

Biografi Fotografer FINE ART #2

HENGKI KOENTJORO


halo, aku mau memperkenalkan seseorang nih buat kamu..
om Hengki adalah seorang Fotografer Fine Art #kalogaksalah* Beliau lahir di Semarang, Jawa Tengah, Indonesia, tanggal 24 Maret 1963. om Hengki Koentjoro lulusan Institut Brooks Fotografi, Santa Barbara, California, dengan mengambil jurusan produksi videografi dan mempelajari seni fotografi.


om Hengki kembali ke Indonesia untuk menjadi videografer freelance / penyunting, yang mengkhususkan diri dalam dokumenter alam dan profil perusahaan, dan kini tinggal di Jakarta bersama istrinya Lana dan tiga anaknya. om Hengki memepunyai kerja sambilan dalam praktek fotografi seni hitam dan putih, yang ia percaya sebagai tujuan perjalanan kehidupan berekspresi.

Do you want look his portfolio? Klik :


Biografi Fotografer FINE ART #1

NICO DHARMAJUNGEN


halo, ini om Nico Dharmajungen.
Beliau adalah seorang fotografer, simak yuk biografinya

Saya lahir pada tahun 1948 di Jakarta, Indonesia, tapi tinggal di Jerman Barat sejak 1967.
Saya belajar seni fotografi dari Peter Busch pada tahun 1969-1970 dan belajar di sekolah foto Hamburger selama satu tahun yakni pada tahun 1970-1971.
Dari 1971-1977 saya melanjutkan pendidikan di bidang seni rupa dan desain komunikasi visual di Schule Rolf Laute dan Hochschule fur bildende Kunste di Hamburg.
Dari 1976-1980 saya menjadi asisten Fotografer Alan Ginsburg.
Karier saya sebagai fotografer lepas pada tahun 1981.
Karya saya tentang besi tua telah dipamerkan di galeri Olympus di Hamburg, berjudul "Langit dan Bumi" pada tahun 1989. Pada tahun yang sama, saya bekerja kemudian memperoleh hadiah khusus sebagai apresiasi fotografi yang disponsori oleh pusat informasi industri baja di Dusseldorf, Jerman.
Saya kembali ke Indonesia pada tahun 1992 dan membuka "Day & Nite" Studio bekerjasama dengan biro iklan Hitam Putih.
Pada tahun 1995 saya mendirikan "Nico Photography".

Solo Exhibition 
1989 "Heaven and Earth" Olympus Gallery Hamburg Germany
1995 "Arkeologi abad mesin" Antara Gallery Jakarta
1998 "Isee, I feel, never die" Cahya Gallery Jakarta
Collective wxhibition :
1998 "Work of art" Triadi P'art, Hotel Mandarin Jakarta
2000 "Living with art" I-Print, Cahya Gallery Jakarta
2002 "In-Contro" Instituto Italiano di Cultura Jakarta
2002 "Third Eye" Duta Fine Art Gallery Jakarta
2002 "Collages of Images" Oktagon Gallery Jakarta
2002 "Untitled" QB Bookstore Jakarta


Group exhibitions:

2002 – Collages of Images, Oktagon Gallery, Jakarta; Third Eye, Duta Fine Art Gallery, Jakarta
2004 – Move and Still, Four Seasons Hotel, Jakarta
2005 – The Loved Ones, Alila Hotel, Jakarta; On Photography, Lontar Gallery, Jakarta.

Address :
Komp. AL, Jl.Teluk Bayur No. A9, Pasar Minggu, Jakarta 12520
021-780 7442, 0816-130 5404

you look his portfolio : klik