Tampilkan postingan dengan label FOTO SENI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label FOTO SENI. Tampilkan semua postingan

Rabu, 22 Mei 2013

Seni Kolase

masih inget nggak kalo dulu waktu kecil kita suka mainan menggunting, menempel?
nah kali ini nih, aku mau jelasin apa itu namanya KOLASE. mau tau?

Kolase (collage), atau ada juga yang menyebutnya karya gunting tempel (cut and paste), karena sebuah hasil karya ini dibuat dengan cara memotong objek-objek, yang biasanya berupa gambar, dan kemudian menempelkan objek-objek itu dengan lem atau perekat dalam suatu bidang, sehingga bisa menjadi satu-kesatuan karya. Ada juga yang menyebutnya montase (montage).


Sejarah

Kolase dapat dikatakan muncul, setelah perang dunia pertama. Pada awalnya terjadi di bidang fotografi. Tetapi, kolase ini baru mulai mendapatkan perhatian yang serius bagi para seniman ketika terjadi gerakan kreativitas yang baru di Berlin, Jerman, yang dikenal dengan gerakan Dada.
Para aktivis Dada, di antaranya John Heartfield, Hannah Höch, Johannes Baader, Raoul Hausmann, dan George Grosz, mengupayakan pencarian sebuah makna sekaligus alat ekspresi yang baru (means of expression). Mereka menolak untuk hanyut dalam arus abstraksi, tetapi juga tidak begitu saja kembali pada tradisi lukisan figuratif. Dan kolase adalah salah bentuk karya yang sering digunakan oleh para aktivis Dada itu dalam mengungkapkan keyakinan-keyakinan mereka.

Tema dalam Kolase
Bila kembali melihat pada masa awal lahirnya kolase, maka setidaknya terdapat ciri khas semangat yang dibawa oleh karya kolase itu. Yaitu, yang pertama, adanya semangat ingin selalu mengadakan perubahan. Mengambil gambar di sana-sini dari berbagai sumber yang berlainan, kemudian berusaha menyatukan semua potongan gambar itu dalam satu bidang, cukup kuat mengesankan proses ingin menciptakan sesuatu yang baru dari sesuatu yang lama, keinginan untuk membongkar struktur lama dan kemudian memperbaruinya.
Ke dua, adalah semangat pemberontakan terhadap struktur-struktur yang mapan. Gambar-gambar dari suatu sumber yang biasanya dilindungi oleh hukum sebagai hak kekayaan intelektual, dalam kolase dijungkirbalikkan dengan seenaknya oleh pembuat kolase, mengambilnya dan kemudian menyatukannya dengan gambar lain yang juga, mungkin, dilindungi oleh lembaga copyright tadi.

*dan dalam perkembangannya kali ini, kolase juga bisa di dapatkan dengan perkembangan teknologi komputer, seperti halnya program komputer Photoshop, ikut membuat kolase menjadi semakin rumit sekaligus indah. Mulai dari iklan di televisi, video klip, hingga ke fashion, kini ramai-ramai mengadopsi bentuk-bentuk kolase, yaaa… kolase yang dulu dianggap sebagai gerakan antiseni, kotor, serta penuh hujatan terhadap seseorang baik pemerintah, sindiran terhadap mereka dan dapat mencangkup berbagai aspek lainnya.


Selasa, 21 Mei 2013

api dengan korek disulap menjadi foto seni

ini dia Stanislav Aristov, seniman dan fotografer asal Rusia, dengan kreatif memadukan api dengan korek yang terbakar untuk menciptakan manipulasi foto yang indah.




bukan patahan kaca

Ide takkan pernah habis dimata para fotografer ini, entah dari masa asal mulanya. Dalam seri foto Aquaviva oleh fotografer Perancis Pierre Carreau, ombak-ombak sekilas terlihat seperti pahatan kaca. Carreau mengambil foto berkecepatan tinggi tersebut di pantai Saint Barthélemy di Karibia.




Foto-foto Multiple Exposure Karya Stephanie Jung

ya, Stephanie Jung adalah fotografer asal Berlin, bereksperimen menggunakan teknik multiple exposure pada karya-karya fotonya. Foto-foto tersebut membuat orang yang melihatnya merasakan kesan tersesat di ruang dan waktu.







Minggu, 12 Mei 2013

dari cermin menjadi sebuah fotografi seni berbentuk lukisan

Nggak bakal kepikiran deh dengan hasilk karya fotografer berikut ini. Entah dia menemukan ide secemerlang ini berasal dari mana, yang jelas hasil karyanya itu WOW banget.

Dia bernama Daniel Kukla menghabiskan waktu selama sebulan di Taman Nasional Joshua Tree di California Selatan untuk menciptakan karya fotografi pemandangan alam yang menakjubkan melalui media cermin.
Dalam ilmu ekologi, ruang perbatasan yang diciptakan oleh pertemuan ekosistem yang berbeda disebut sebagai efek tepi. Untuk mendokumentasikan pertemuan ini , Kukla membawa cermin besar dan tripod kanvas ke padang gurun dan menangkap elemen-elemen indah. Menggunakan kamera tunggal, rangkaian gambar menyatukan fenomena sinkronisasi antara kontras warna dan tekstur, serta interaksi alami dari lingkungan itu sendiri.

Berikut hasil karyanya :


























*sumber : http://blog.melukissendiri.com/artikel/seni-fotografi-cermin-yang-menyerupai-lukisan/

Foto NUDE, pornografi atau seni fotografi ?

Selamat malam bloggist, malam ini dari pada aku bingung mau ngapain, sedikit pengetahuan nih dari aku buat kamu semuanya. Tau dong yang namanya foto NUDE. Nude berasal dari negara - ngeara barat. Sebelum adanya fotografi, nude sudah dibalut dalam sajian gambar, lukisan atau pahatan kayu dan patung. Bahkan dengan adanya karya - karya tersebut sehingga terbentuk kaum - kaum nudisme di berbagai negara, salah satunya Perancis.

Nude mulai masuk Indonesia sekitar tahun 1980. Nude adalah telanjang. Khususnya para pelakon seni di fotografi (fotografer dan model) melakukan pemotretan tersebut didasari rasa seni, yakni memperlihatkan estetika anatomi tubuh. Disajikan dengan berbagai olahan, baik secara digital atau berdasarkan teknis-teknis pengambilan gambarnya. Foto nude dikalangan fotografi sendiri sebagian besar tidak menjual sensualitas.

Tetapi terkadang penilaian orang Indonesia tentang fotografi NUDE adalah PORNOGRAFI. Jenis foto Nude ada dua, yakni :  
  •  Fine Art Nude 
Fine Art Nude adalah fotografi telanjang yang memiliki nilai estetika dari bentuk tubuh manusia. Dengan eksekusi foto dari berbagai angle (sudut pandang pengambilan), kombinasi atau pengaturan pencahayaan, serta proses editing, foto yang dihasilkan akan semakin “menarik” 

  • Body Part
Body Part adalah foto yang menampilkan bagian-bagian tubuh tertentu. Bagian tubuh yang memiliki keindahan tersendiri atau bagian tubuh si model yang paling menonjol dan menarik.
 
Fine Art Nude dan Body Part 
 
“Fine Art Nude sudah pasti Body Part, tetapi Body Part belum tentu Fine Art Nude”. Karena Fine Art Nude menampilkan seluruh tubuh si model dan dalam proses eksekusinya jarang ada model yang tetap memakai pakaian. Sedangkan Body Part, menampilkan bagian-bagian tubuh tertentu, seperti lipatan kaki, lekukan punggung, lekukan bentuk pinggang atau panggul, ruas-ruas jari, dan lain-lain. Bahkan dalam eksekusinya Body Part tidak selalu telanjang, karena yang dipotret hanya bagian-bagian tertentu, model sering mengenakan pakaian terbuka (pakaian dalam). 
 
nah ini nih perbedaan antara foto NUDE dan foto PORNO
 
  1. Foto Nude mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :
    • Foto Telanjang (nude) seringkali tidak menunjukkan wajah sama sekali (walau terkadang ada juga yang menunjukkan wajahnya). 
    • Umumnya Fotografi telanjang tidak berupa foto snapshot / candid.
    • Terkadang menggunakan pengaturan cahaya dan bayangan untuk mendapatkan tekstur dan struktur tubuh yang diinginkan (untuk tingkat yang lebih ekstrim). 
    • Foto nude, pada proses mengutamakan konsep berisi makna atau pesan tertentu, bahkan bisa dijadikan sebagai simbolis. Bukan sekedar menjual sensualitas dan erotic. 
    • Foto nude tidak bertujuan untuk memancing rangsangan biologis seseorang, namun semua penilaian kembali pada masing-masing penikmat foto tersebut.
  2. Foto Porno :
    • Foto Porno umumnya mengekspose seluruh tubuh, serta menunjukan wajah objek foto.
    • Foto porno cenderung diambil secara terang-terangan dengan pengaturan cahaya yang flat.
    • Foto porno umumnya cenderung menggunakan model yang mempunyai tubuh “proporsional”. 
    • Foto porno sering mengekspos bagian organ vital. 
    • Foto porno bertujuan menjual sensualitas, bahkan bukan tidak mungkin foto porno bertujuan untuk merangsang seksualitas seseorang.
 
*sumber : http://dininaoviani.blogspot.com/2013/01/fine-art-nude-body-part-pornografi-atau.html


Minggu, 05 Mei 2013

Estetika dalam Foto Seni

Estetika dalam Foto Seni

Estetika di dalam foto seni didapatkan apabila telah ditemukan titik estetika yaitu momentum pengalaman kesadaran roh manusia seniman maupun pengapresiasi seni yang persis berada di tengah-tengah antara yang rohani dan yang jasmani, di mana titik ini di alami sekejap namun bernuansa mendalam di dalam yang “tragis” (manakala:roh”dikalahkan”jasmani”), yang sublim (manakala roh menang atas kebaikan), dan yang asri (gracious:manakala kebaikan menang atas kebenaran) (lihat Mudji Sutrisno dan Chris Verhaak, Estetika Filsafat Keindahan, Kanisius,1993).

Dalam estetika di kenal dua pendekatan: yang pertama ingin langsung meneliti keindahan itu dalam benda-benda / alam indah serta seni itu sendiri atau mau lebih; yang kedua menyoroti situasi kontemplasi rasa indah yang sedang dialami (pengalaman keindahan dalam diri orangnya). Pengalaman estetika berkait erat dengan soal perasaan, dimana bila foto seni dikatakan memiliki estetika dengan ciri foto tersebut tidak hanya mampu  mengeploitasi keindahan tersebut melainkan foto seni menyumbangkan nilai-nilai humanisme universal kepada umat manusia. Fotografi tidak hanya sebagai ekses kemudahan alat rekam, namun di sana tercermin sebuah proses pencitraan gagasan dan estetika yang lebih transenden.

*sumber : http://fotografi.isi-dps.ac.id/berita/%E2%80%9Cfoto-seni%E2%80%9D-konsep-estetika-dalam-fotografi

Fotografer Seni dan Kategori Foto Seni

Fotografer Seni

Kassian Cephas orang jawa, lahir di Yogyakarta tanggal 15 Januari 1845, oleh banyak pihak diakui sebagai fotografer pertama Indonesia. Fotografer lainnya yang ada di Indonesia sebagian besar adalah keturunan Belanda.

Kassian Chepas yang tinggal dan mempunyai studio di Yogyakarta juga merupakan “pemotret resmi” Kraton Yogyakarta. Selain memotret kalangan elit, Kassian Chepas juga banyak memotret candi dan bangunan bersejarah lainnya terutama yang ada disekitar Yogya.

Selain karya Chepas, foto-foto kuno yang dibuat pada akhir dan awal tahun 1900-an sayangnya banyak yang tidak diketahui siapa pemotretnya, banyak juga yang menampilkan sisi keindahan dengan objek panorama maupun human interest.

Selain itu Ansel Adam seorang “fine art photographer” Amerika terbesar dari abad ke-20. Ansel Adam tidak hanya dihargai dari karya foto-fotonya saja tapi juga dari dedikasinya dalam dunia pendidikan fotografi. Ansel bersama Fred Archer pada awal tahun 1940-an memperkenalkan suatu metode yang dikenal dengan nama Zone System (ZS).

Metode temuan Ansel ini secara umum adalah proses terencana dalam pembuatan foto mulai dari pra-visualisasi kemudian mengkalkulasi pencahayaan secara tepat sampai menproses film secara akurat. Hasil akhirnya adalah negatif foto yang prima sebagai pondasi utama membuat cetakan foto yang berkualitas juga maksimal. Metode ZS ini bila dipahami secara benar akan sangat membantu fotografer untuk menghasilkan foto yang semaksimal mungkin sehingga tidak lagi mengharapkan suatu keberuntungan semata dalam menentukan perhitungan pencahayaan. Segalanya telah diprediksi dan direncanakan dengan baik.

Kategori Foto Seni (fine art) 

Foto seni (fine art) adalah foto-foto piktorialisme, yakni jenis foto yang menonjolkan estetika yang meniru pencitraan gambar (picture) atau lukisan (painting). Jenis foto ini lebih menyerukan keindahan atau nilai artistik instriknya ketimbang kandungan makna foto itu sendiri. Elemen -elemen yang diekploitasi oleh fotografer foto seni ialah komposisi, penyinaran yang dramastis (chiroscuro) dan nada warna(Paul I. Zacharia)

Foto seni (fine art) bisa disimpulkan sebagai foto yang dalam proses yang berkesinambungan. Ada hal yang yang tidak bisa dipisahkan mulai dari konsep perencanaan, pembuatan, penerapan teknis secara akurat termasuk didalamnya pemrosesan film ataupun pembuatan file digital. Menyikapi kontroversi tentang digital, menarik mengutip pendapat seorang jurnalis kawakan bahwa hanya foto jurnalis yang tidak boleh dimanipulasi. Foto-foto jurnalistik harus menyampaikan suatu kebenaran apa adanya sedangkan dalam foto (fine art), proses digital hanya merupakan alat pembantu dalam berkarya.

Dalam mencipta suatu karya seni, konsep utama yang harus kita persiapkan adalah idealisme pribadi. Pengembangan konsep tersebut, lalu penyesuaian dengan sarana yang ada, pengaruh lingkungannya, kesulitan yang mungkin terjadi, dan tentu saja harus didukung dengan peralatan yang memadai sebagi faktor teknis penciptaan.

Sebagai ilustrasi untuk hal ini adalah foto-foto karya Do Qong Hai yang mirip dengan lukisan bergaya China. Karya-karya ini dibuat dengan melakukan sandwich dari beberapa negative yang dalam pembuatannya telah direncanakan dengan matang.

*sumber : http://fotografi.isi-dps.ac.id/berita/%E2%80%9Cfoto-seni%E2%80%9D-konsep-estetika-dalam-fotografi

Foto "SENI" Indonesia

Guys, tau nggak? perkembangan foto seni di Indonesia sendiri telah berkembang diakhir abad delapan belas lho, ada orang Indonesia yang telah membuat foto-foto indah menawan baik di dalam studio maupun di alam bebas, foto-foto itu jelas sekali bernafaskan seni seperti yang kita kenal sekarang ini. Objek, lighting dan komposisinya jelas sekali diperhitungkan dengan matang saat pemotretan. Pencetakan fotonyapun juga sangat brelian, sehingga hasil fotopun menjadi indah menawan bagaikan lukisan-foto piktorial. 

Banyak yang tidak menyangka bahwa perkembangan foto seni di Indonesia sangat pesat termasuk Bali di era digital ini tumbuh dan mewarnai pefotografian di Indonesia. Dari segi ekonomi sekarang ini sebuah foto bisa dihargai puluhan juta rupiah selembarnya. Namun bukan sekedar dari segi ekonomi saja, dari segi seni rupa lainnya perkembangan foto seni semakin dapat mensejajarkan diri dengan seni lainnya. Mereka yang tidak percaya tentang hal ini menganggap bahwa sebuah cetakan foto seni hanyalah sebuah replika dari negatif pembentuknya. Foto mudah dibuat berapa lembarpun asalkan negatif fotonya masih ada sehingga tidak bisa disamakan dengan karya seni lain.

Hal ini lebih membangkitkan fotografer menekuni bidang foto seni ini, karena sekarang tumbuh sekelompok orang yang mengoleksi foto dan menganggapnya sama dengan benda seni lain. Walaupun dapat dikatakan perkembangan foto seni di Indonesia masih belum maksimal, karena belum banyak yang menekuni foto seni itu sendiri. Foto seni tidak selalu apa yang menjadi obyek, melainkan lebih pada proses ketika memotret dan memroses hasil cetakannya. Ketika kita memotret kita harus sudah tahu akan seperti apa hasilnya hingga sedetail mungkin. Perkembangan foto seni yang begitu pesat dapat kita nikmati setelah bergulirnya era reformasi 1998 dan memasuki era fotografi digital yang sangat pesat dan juga menjadi tonggak perkembangan bidang lain.

Foto Seni

Pengertian “foto seni” adalah suatu karya foto yang memiliki nilai seni, suatu nilai estetik, baik yang bersifat universal maupun lokal atau terbatas. Karya-karya foto dalam kategori ini mempunyai suatu sifat yang secara minimal memiliki daya simpan dalam waktu yang relatif lama dan tetap dihargai nilai seninya.

Sebuah karya atau foto kita katakan sebagai benda seni, ia harus bukan sekedar hasil upaya proses reproduksi belaka. Foto seni semestinya berasal dari suatu kontemplasi yang intens. Pemunculan gagasan/idea tidaklah serentak dan berkesan dadakan. Ada suatu proses pengamatan empirik, komparasi, perenungan, dan bahkan serangkaian mimpi-mimpi yang panjang yang lalu berwujud sebagai titik akhir sebuah eksekusi: konsep dan visi/misi yang transparan serta “baru”. Dengan begitu sebuah foto seni tidak hanya sebentuk “seni instan” belaka.

Foto Seni, merupakan bagian dari cabang seni rupa yang paling muda. Walau tidak bisa dipungkiri, secara teknikal foto seni memberikan kontribusi kepada cabang fotografi lainnya, semisal foto jurnalistik.
Berbagai kalangan fotografi mengakui, perkembangan dunia fotografi di Indonesia memang belum sepenuhnya menggembirakan, walaupun sejak “reformasi” foto baik dari foto jurnalistik, foto studio, komersial ataupun yang bernuansa salonis, foto seni, dunia fotografi Indonesia memang tengah memasuki era baru.

*sumber : http://fotografi.isi-dps.ac.id/berita/%E2%80%9Cfoto-seni%E2%80%9D-konsep-estetika-dalam-fotografi 


Rabu, 17 April 2013

PHOTOGRAPHIC ART = PHOTO ART = FOTO SENI

Baca: Fine Art, adalah Seni Murni, yang datang dari: Fotografi, atau, Seni ini (yang dibicarakan) adalah ‘sebuah: subyek’ yang muncul dari dalam Fotografi itu sendiri. Dan sesuai dengan urutan penyebutan bahasanya, saya lebih menegaskan kepada pemakaian kata: ‘Fotografi’ terlebih dulu, dan kemudian kata ‘Seni’ akan mengikutinya. Dan saya akan menuliskannya: ‘Fotografi Seni’ (Photographic Art), terlebih dulu -lengkap, tanpa harus menguranginya menjadi: ‘Foto Seni’, karena pada beberapa pemahamannya, akan berbeda, antara Fotografi dan Foto itu sendiri, -walau dipergunakan untuk pengertian yang saling mewakili. Penulisan menjadi: Foto Seni, akan menjadi peringkat kedua dalam penggunaannya, -untuk pemahaman yang sudah melampaui definisi fotografi itu sendiri. Fine Art (of) Photography, merupakan pencapaian ‘Realitas Murni’ yang obyektif. Bahkan, ke-obyektifitas-an dalam fotografi dari awal kelahirannnya, hanya dipahami secara obyektifitas dari keteknisan proyeksinya saja.
Pemakaian kata ‘Foto’, pada dasarnya lebih identik dengan: hasil fotografi (photograph) -dalam kajian bahasa Indonesia, sedangkan Fotografi, adalah keilmuan dan studi secara keseluruhan. Fotografi merupakan keilmuan teknis proyeksi optik yang sangat ketat. Sejak dari awal dan dasar dari penemuan Fotografi, bahkan tidak mengenal dengan apa yang disebut: Seni. Apalagi ketika dikaitkan dengan apa yang didefinisikan sebagai Seni Rupa. Itu terjadi setelahnya dan nanti, ketika kita menguasai dasar fotografinya terlebih dulu, dan jangan coba-coba mencari jalan pintasnya, karena penggalan sistem dalam fotografi akan banyak yang hilang dan menjadi kabur. 
Fotografi, identik dengan teknologi yang terkait dengan optik dan energi, -sesuatu yang nyata dan ke-benda-an (dalam konsepsi: visible light). Namun, dalam proses perkembangan dan hasil visualnya, fotografi mempunyai pengaruh yang luar biasa, mencakup hal eksistensi kepada hasilnya. Ketika pada tahap ini, yang kemudian dibicarakan adalah tentang subyektifitas apresiasi di banyak arah dan komunikasi (Vision). Fotografi adalah teknis pencapain visual (yang obyektif) dan proyeksi selanjutnya akan meliputi ke-subyektif-an visual itu sendiri. Dalam rumus matematika-fisika, proyeksi fotografi akan mencapai kepada satu titik pembahasan tentang ‘energi’ dari ‘invible light‘. Rumus berkesinambungan bolak-balik, dari visible light hingga kepada invisible light (electromagnetic). Apresiasi atau pun Ekpresi, adalah energi dari invisible light itu sendiri. 

Bila Fotografi adalah Fotografi, definisi keilmuannya lebih lanjut akan lebih mudah dipahami. Bahkan ‘penambahan’ kata ‘Art‘ atau ‘Fine Art‘ juga tidak terlalu banyak dibicarakan, karena disitu sudah berisi akan ‘kepentingan’ – yang lain. Fotografi adalah visual dari rumus energi dan optik, dan hal yang jarang dibicarakan adalah: energi verbal (teori: Vision). Verbal adalah proyeksi energi visi dalam perhitungan ‘cahaya hitam’ (invisibe light), dan Visual adalah proyeksi energi optik dari ‘cahaya putih’ (visible light). (Lihat dalam penulisan sebelumnya)

Bila berbicara ‘seni’ dalam definisi ‘fine-art‘ di fotografi, mungkin sejuta apresiasi bisa dimunculkan, secara subyektif, dan tidak akan pernah selesai. Namun, bila dikaji bahwa fine-art dalam fotografi adalah ‘seni’, yang muncul dari dalam (isi), dan dasar dari hasil fotografi secara obyektif, akan lebih mudah dipahami. Bahkan seni yang muncul dari dalam fotografi, tidaklah rumit. Seni dalam fotografi sangat terukur dan bisa didefinisikan. Tidak ada yang perlu ‘disembunyikan’, namun keunikan isi dalam fotografi menjadi sebuah ‘teka-teki’ yang harus dimunculkan dan diulas lebih dalam. Apresiasi dan Ekspresi menjadi urutan kedua, ketiga, dan seterusnya, bahkan menjadi tidak penting pada proses awal. Apresiasi dan Ekspresi, yang subyektif, tidak muncul dari luar isi dan hasil fotografi itu sendiri, karena fotografi adalah studi dan hasil yang realitis dalam teknis yang ketat. 

“Apa yang dilihat dan apa yang akan dihasilkan” -dalam sebuah proses fotografi, ini adalah benar-benar definisi kunci. Bahkan, kita bisa membuat banyak definisi lanjutan tanpa harus ‘meminjam’ definisi kata seni yang lain (yang sudah terlebih dulu eksis). Demikian juga nantinya, fotografi akan mempunyai semakin banyak definisi seni miliknya sendiri. Fotografi berbicara tentang realitas yang terjadi, dan kemudian terproyeksi secara alami, hingga mampu mengeluarkan ke-obyektifitas-annya sendiri, bahkan lebih kuat dari realitas itu sendiri, inilah yang akan mempengaruhi visi kita. Bahkan bisa saja terjadi, kuatnya realitas fotografi, bisa hingga lebih kuat dari realitasnya sendiri, menjadi sesuatu yang seakan tidak bisa dijelaskan dan diartikan, -ini yang rancu dan keliru. Fotografi terletak dalam wadah realitas, bukan wadah imajinatif.

Lebih gamblang lagi, yang dimaksud ‘fine art‘ dalam fotografi tersebut, sebaiknya jangan didefinisikan sebagai Seni Rupa (Seni Lukis), namun, pemahamannya lebih tepat kepada: Seni Murni (Orisinalitas yang muncul dari: Fotografi) -saja, yang berarti membicarakan kemurnian dan ke-orisinalitas-an dari keilmuan fotografi itu sendiri. Namun, hingga kini, pemakaian ‘fine art photography‘ dalam kajian ‘imbas’ seni rupa masih dipergunakan. Mungkin masih available, namun perlu dipahami saja bahwa definisinya tidak sama bila Fotografi Seni, diterjemahkan dalam definis keilmuan Seni Rupa. Fine Art dalam fotografi, berarti dasar pencapaian kemurnian akan penguasaan teknis, dan kemudian mendefinisikan serta menyampaikannya secara detil, tentang apa yang ada dalam isi hasil fotografi tersebut. 

Realitas Murni (Photography) tersebut, adalah proyeksi visual optik, merupakan definisi dari ‘cara melihat’, sedangkan proyeksi selanjutnya adalah terletak pada pemahaman ‘cara memandang’ yang didefiniskan sebagai Realitas Alternatif. Dan ‘keterlibatan’ atas Ekspresi, Apresiasi, dan Interpretasi, merupakan imbas dari proyeksi Realitas Murni. Kedua faktor berkesinambungan tersebut, adalah rangkaian proyeksi yang normal, dan wajar. Tugas seorang seniman fotografi (fotografer) harus mampu membuat ‘benteng’ definisinya sendiri, bagaimana membuat hasil karyanya tetap berada dalam wilayah fotografi murni, yang tidak keluar dari jalur keilmuan, tidak menambahkan elemen lain selain faktor cahaya, melebih-lebihkan teknis, dan membuat manipulasinya, dengan faktor dan aspek diluar keilmuan dasar proyeksi dari fotografi.
Pada satu titik pembicaraan yang jarang ditampilkan terbuka adalah: Statement atau penyampaian maksud, dari fotografer / seniman fotografi atas karyanya sendiri. Mereka jarang mengemukakan ide, maksud, dan tujuannya atas karya fotografinya sendiri. Hal sederhana yang seharusnya dilakukan adalah menuliskannya, lewat judul, isi besar, atau deskripsinya. Tanpa adanya statement fotografi tersebut, hasilnya bisa menimbulkan ‘depresi ekspresif’ / ‘depresi apresiatif’ kepada dirinya sendiri atau orang lain, sehingga bisa keliru penafsirannya. Penyampaian statement itu termasuk bisa juga mempergunakan media: Suara / Sound.
Seperti yang pernah saya tuliskan sebelumnya, realitas dalam fotografi, sangatlah kompleks. Realitas tersebut sangat terkait dengan energi proyeksi cahaya (photon), yang meliputi 3 elemen besar, yakni: mata >< otak >< alat perekaman, yang saling terkait berkesinambungan. Dan dengan fotografi, semua itu sangat mudah didefinisikan bila kita menyempatkan diri untuk memperdalamnya dengan lebih detil. Dan ketika semua itu sudah bisa didefiniskan dengan lebih detil, maka saya sudah bisa menyebutkan ‘Fine Art of Photography‘ itu adalah Seni-nya Fotografi sendiri, dan dituliskan dengan: ‘Photographic Art‘ atau ‘Photo Art‘ atau Fotografi SeniFoto Seni. Ketika sampai pada penyebutan dengan ‘Foto Seni’ ini, saya bukan hanya membicarakan ‘hasil’ yang tercetak atau ditampilkan saja, namun keseluruhan imbas dan keilmuannya, baik secara Interpretasi, Apresiasi, maupun Ekspresi di dalamnya.
 
sumber : http://indrawidi0ekspresifoto.wordpress.com/2013/01/12/22-fine-art-of-photography-photographic-art-photo-art-photo-seni/